Wednesday, April 1, 2015

Dominasi Akal atau Nafsu, Tergantung Mana Yang Paling Banyak Dipelihara



Saya cukup yakin, setiap manusia pernah mengalami sebuah situasi perbenturan antara akal dan nafsu. Dimana solusi yang akan diambil antara petimbangan akal atau nafsu bergantung yang mana, yang paling sering dipelihara. Idealnya, mereka dipelihara secara seimbang, sesuai peruntukkannya. Ini kisah saya tentang perbenturan tersebut, moga dapat diambil nilai positifnya.

Awal tahun ini saya membaca pengumuman penerimaan pendidik di sebuah sekolah, sekolah yang saya kategorikan memiliki visi yang baik, karena siap memperlakukan siswanya berbeda, sesuai kebutuhan dan potensinya. Seketika saya segera mengumpulkan dokumen kebutuhan untuk melamar menjadi pendidik disana.

Singkat cerita…seleksi admintrasi lolos, kemudian saya mengikuti tes selanjutnya : tes tertulis kompetisi guru, pengetahuan sosial, bahasa inggris, dan interview awal. Hasilnya….lolos. Saya ikut tes berikutnya, membuat perencanaan pembelajaran kemudian mempresentasikannya. Hasilnya akhirnya…lolos. Segala puji untuk Allah.


Dikemudian hari…saya mendapat informasi bahwa kami para pendidik harus siap mulai bergabung di awal April 2015. Kaget adalah rasa yang pertama hadir, rasa yang cukup terlatih untuk muncul ketika kenyataan tidak sesuai yang dipersiapkan. Permintaan keaktifan tersebut tidak bisa saya penuhi, karena sampai semester ini berakhir, saya masih aktif di lembaga pendidikan lain. Mungkin bisa saja saya melarikan diri dari tempat saya sekarang, karena disana saya tidak terikat kontrak apapun. Namun saya merasa masih punya kewajiban mendidik sampai UAS dan nilai akhir muncul. Apabila saya mundur, memaksa adanya pengajar pengganti, rasanya hal itu tidak benar untuk dilakukan. Saya sayang kepada murid-murid, saya ingin memberikan keteladanan bahwa komitmen dan tanggung jawab adalah karakter dari seorang muslim. Niat yang baik harus juga disertai dengan cara yang benar, bahkan keduanya, baik dan benar.

https://sofwanmanaf.files.wordpress.com/2014/08/wpid-wp-1407117114039.jpeg


Perasaan kesal juga saya rasakan bercampur, pasalnya sejak awal lamaran sudah saya informasikan bahwa saya siap untuk bergabung di awal semester depan. Ketika interview awal pun saya tegaskan kembali, bahwa waktu saya siap untuk bergabung adalah di semester awal. Dengan prasangka baik, ketika saya diinformasikan lolos pada tes seleksi, para penyeleksi sudah memahami kondisi saya. Tapi ternyata belum dipahami. Rasanya sia-sia…waktu, energi dan biaya yang difokuskan untuk membangun kerja sama disana.

Itu dia manusia, mayoritas reaksi awal yang dikeluarkan biasanya negatif. Jarang sudut pandang yang berusaha digunakan untuk menerima sebuah informasi adalah sudut pandang netral, dimana manusia berusaha memahami sebab-akibat apa adanya, sehingga semua tampak wajar apabila harus terjadi. Seringkali nafsu yang dikedepankan, daripada akal.

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/7f/fa/f1/7ffaf1eb9cf31d61783cc035d23fceb4.jpg

Padahal apabila benar kita yakin terhadap Allah, kita juga akan senantiasa yakin bahwa yang sedang kita alami sekarang pasti yang terbaik. Selalu ada hikmah, dari peristiwa yang kita anggap terburuk pun. Pikiran manusia itu mirip dengan otot, perlu dan harus dibiasakan apabila ingin konsisten mampu berpikir dari sudut pandang netral bahkan positif.

"While i can run, i'll run ; while i can walk, i'll walk ; when i can only crawl, i'll crawl. But by the grace of God, i'll always be moving forward" - Cevett Robert

R.M.R