Wednesday, November 13, 2013

“Siapa yang Salah?”

http://blog.gethope.net/wp-content/uploads/2013/03/The-Danger-of-an-%E2%80%9CIt%E2%80%99s-not-me-It%E2%80%99s-you%E2%80%9D-Attitude.jpg


Di hari Rabu siang ini, Bandung yang mendung memanas…walau langit mendung tapi cuaca panas. Sobat sayah bercerita dengan suara batinnya, tentang kisah sebuah keluarga. Diceritakan, pasangan ini baru saja menikah di awal bulan. Pernikahan yang sederhana, karena mereka ingin fokus pada apa yang penting menurut Allah, bukan apa yang penting menurut budaya. Ya, “sekedar” memenuhi syarat sah nikah di mata Allah bagi mereka lebih penting dari pembicaraan keluarga, teman, dan masyarakat Indonesia yang berjumlah 400 juta orang,katanya.

Untung tak dapat dikontak, Malang terlampau jauh bila dicapai dengan berlari. Belum ganjil waktu mereka menikah, masih kurang dari 1 bulan hitungan kalender Syamsiah, salah satu pihak menggugat cerai. Menunda resepsi, dan mengutamakan akad nikah, bukanlah penentu dari pernikahan yang tanpa tantangan. Ilmu adalah kunci pintu yang bertuliskan “Tantangan Hidup”.   Tanpa ilmu, orang akan kebingungan, dan saat konsisten dalam kebingungan juga ketidaktahuan, harapan membuka tabir kebenaran sedikit-sedikit menjadi pupus. Pernikahan berujung pada perceraian. Dalam kisah ini, tidak hanya satu alasan dari perceraiannya…ada yang mengatakan perceraian disebabkan karena istri masih tergantung dengan orang tua sehingga tidak mau ikut kepemimpinan suami, ada yang mengatakan suami selingkuh, dan mungkin bisa ada 131.120,13 alasan (angka kece hari ini), lainnya.

Lalu…”siapa yang salah antara mereka?”. Apakah suami yang salah, karena yang mengajukan cerai adalah istri?. Ataukah ternyata istri yang salah? karena sang suami jadi bersikap demikian, karena dipicu oleh sikap istri sebelumnya?.

Hadirin khutbah Rabu yang sayah hormati. Sayah coba kasih persepsi berdasarkan pengalaman orang laen yang udah berhasil ngelewatin tantangan rumah tangga ini ya…jadi yang mau sayah tulis diparagraf selanjutnya bukan pengalaman sayah. Karena saat ini sayah belum punya anak kandung, apalagi menikah *ya iyalah*.

Saat dianggap ada kesalahan pada pasangan, yang indikatornya pasangan jadi tidak seperti biasanya, HENTIKANLAH KEBIASAAN MENYALAHKAN PIHAK LAIN, hentikanlah kebiasaan mencari-cari kesalahan pihak lain.  Saat terjadi salah paham dalam suatu hubungan. kekhilafan itu disebabkan oleh kedua belah pihak. Ya, SETIAP PIHAK PUNYA PORSI TANGGUNG JAWAB ATAS KEKHILAFAN YANG TERJADI. Coba deh intropeksi…setiap ada salah paham dengan seseorang, apa andil anda disana?.

Kekhilafan, salah paham ini akan clear, apabila MASING-MASING PIHAK MAU UNTUK BERTINDAK MEMPERBAIKI DIRI.

R.M.R


No comments:

Post a Comment