Tuesday, October 1, 2013

Tiada Tuhan Selain Gelar?

http://i1.tribune.com.pk/wp-content/uploads/2013/05/554058-degree-1369426887-203-640x480.JPG

Beberapa waktu yang lalu, sayah mengirimkan lamaran dosen ke suatu universitas swasta. Pengiriman lamaran kerja ini modal nekad sebenarnya…nekadnya adalah sayah mengirimkan ke tempat dimana sayah tidak memenuhi persyaratan secara administratif yang dicantumkan pada info lowongan pekerjaan. 

Namun dibalik itu, sayah merasa cukup yakin bahwa kemampuan sayah memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan. Maka dari itulah sayah masih penasaran…apakah pihak universitas akan melakukan penilaian terhadap sayah sekedar dari sudut administratif (gelar)?... ataukah kemampuan?.

Bahkan dalam surat lamaran yang sayah kirimkan, di akhir surat sayah sebutkan, yang pada intinya bahwa memang gelar akademis sayah tidak sesuai sebagaimana yang dipersyaratkan. Namun sayah merasa punya kemampuan minimal yang dibutuhkan, dan sayah siap di tes kapan pun juga, untuk membuktikannya. Ya, semacam kalimat tantangan sayah tuliskan.

Beberapa hari setelahnya, sayah mendapatkan balasan surat atas lamaran sayah tersebut . Pada akhir suratnya terdapat kalimat, 

“…permohonan Saudara belum dapat kami kabulkan mengingat persyaratan adminstratif dan kualifikasi yang telah ditentukan tidak terpenuhi”. 

Ya, tantangan sayah tidak diterima.

Sayah jadi teringat tulisan Ayah Edy dengan judul  “Kisah di Negeri 1001 Gelar”.

http://www.degree.com/wp-content/gallery/homepage-gallery/gal_degrees.jpg


" Gelar oh gelar…tiada Tuhan selain gelar. 
Padahal orang-orang besar yang mengubah peradaban dunia justru tidak bergelar, tapi mengapa manusia begitu bangga dengan yang namanya gelar. 
Gelar ibarat sebuah nyawa dalam hidup, tanpa gelar sepertinya seseorang tak kan pernah bisa hidup, tapi mengapa justru mereka yang mengubah kehidupan dunia lebih banyak yang tidak bergelar
.
Gelar oh gelar…semuanya diukur dengan gelar. 
Bahkan dalam semua aspek kehidupan, prestasi, kemampuan, isi kepala tidak lagi menjadi penting. Jauh lebih penting memiliki gelar dan jumlah gelar yang dimilikinya. 

Gelar oh gelar…Tiada Tuhan selain Gelar. 
Bahkan untuk mencari pasangan hidup pun di negeri ini gelar menjadi salah satu persyaratannya. 
Ya…isi kepala dan nilai kemuliaan manusia hanya diukur sebatas gelar. 
Anda tidak boleh masuk ke sini jika tidak bergelar anu, atau Anda tidak boleh mengikuti ini asalkan minimal bergelar anu. 
Anda tidak boleh menjadi itu jika tidak memiliki gelar setinggi ini, begitulah isi sebuah aturan main di negeri 1001 gelar.
Sehebat apa pun prestasi Anda dan sebesar apa pun jasa Anda, Anda tak akan pernah naik peringkat jika Anda tidak mau menambah jumlah gelar yang Anda miliki saat ini. 
Begitulah pembatasan-pembatasan yang telah dibuat di negeri 1001 gelar.

Gelar…oh gelar… 
Ya, gelar-gelar yang telah membuat sombong orang yang memilikinya, yang telah merendahkan orang yang tidak memilikinya, dan yang telah membuat para orangtua begitu khawatir akan anak-anaknya. 
Hingga berduyun-duyunlah orang berebut gelar. 
Ya, karena segalanya diukur berdasarkan gelar. 
Maka menyingkirlah segera wahai pemikir-pemikir hebat dan orang-orang berprestasi di negeri itu jika Anda tak bergelar.
Bahkan yang tak kalah luar biasanya adalah untuk menjalankan perintah Tuhan Yang Maha Agung sekalipun, mereka masih belum rela rasanya jika tidak menambahkan gelar setelah melaksanakannya. 
Sungguh luar biasa. 

Tiada Tuhan selain Gelar. 
Itulah semboyan yang paling terkenal di negeri 1001 gelar. 
Untunglah dunia olahraga sejak dahulu tidak ikut-ikutan untuk mendewa-dewakan gelar.
Anda atau siapa pun tanpa terkecuali boleh ikut ambil bagian dan unjuk gigi di dunia ini. 
Tidak peduli apa pun gelar Anda, hanya prestasilah taruhannya. 
Siapa yang tidak unggul dia akan segera diminta mundur, tidak seperti di negeri 1001 gelar.
Dunia olahraga adalah dunia prestasi yang dari waktu ke waktu tidak pernah ada kemunduran. 
Catatannya selalu bergerak maju. 
Anda dinilai berdasarkan kemampuan bukan berdasarkna berapa tingginya gelar Anda atau berapa banyaknya gelar yang mengiringi nama Anda.
Begitulah kehidupan di negeri 1001 gelar…

Negeri ini semakin hari semakin terpuruk. 
Karena negara harus menanggung beban yang demikian berat terhadap orang-orang yang tidak berprestasi tapi memiliki gelar yang berbaris dari depan hingga di belakang namanya.
Bahkan yang jauh lebih memprihatinkan lagi ternyata bahwa sebagian besar masyarakat di negeri 1001 gelar sudah mulai lupa apa arti “Kemampuan Unggul”, apa arti “Prestasi” dan dari hasil temuan terakhir diketahui bahwa di dalam kamus besar bahasa, di negeri 1001 gelar, juga sudah tidak memuat lagi kata-kata seperti “Prestasi”, “Kemampuan”, “Kinerja”, “Keahlian”, dan sejenisnya, melainkan telah diganti dengan rangkaian daftar panjang gelar-gelar lama yang sebagian telah dikonversikan menjadi gelar-gelar baru yang semakin rumit dan membingungkan.

Begitulah Kisah di Negeri 1001 gelar, sebuah Negeri yang pada akhirnya selalu diliputi oleh 1001 masalah dan 1001 bencana yang terus dating silih berganti. 
Sungguh menakutkan akhir sebuah cerita dari sebuah negeri yang menganut paham Tiada Tuhan selain Gelar. 

Ah…seandainya saja kita mau belajar dari negeri 1001 gelar ini, mungkin kita bisa lebih cepat sadar dan bertobat.


Ya…sayah mau belajar.   
Ya…sayah mau memulai langkah.  
Kapan pun, dimana pun sayah berada,  sayah akan berkumpul dengan orang-orang yang mau juga belajar, mau memulai langkah. Langkah pembuktian, untuk mencari potensi unggul kami dari masing-masing individu, dan kelak kami akan membuktikan bahwa kemampuan unggul lebih utama dari sekedar gelar. 
Karena kemampuanlah yang membuat mampu untuk menopang kehidupan, bukan sekedar gelar.

R.M.R
   

No comments:

Post a Comment