Sunday, October 27, 2013

Ceritanya… sayah malas.

http://3.bp.blogspot.com/-95UHVWA-kPM/TmHyO83KxoI/AAAAAAAAA8M/5HLvgVNN-Ow/s1600/GarfieldLazy.jpg

Ceritanya sayah ga mau tersesat…
Tapi berusaha memahami petunjuk aja malas.

Ceritanya sayah mau jadi manusia yang mulia…
Tapi berusaha memaksimalkan proses aja malas.

Ceritanya sayah mau dapet bimbingan…
Tapi berusaha mendekati pembimbing aja malas.

Ceritanya sayah mau hidup mudah…
Tapi berusaha memperbanyak ilmu aja malas.

Ceritanya sayah ga mau jadi manusia bodoh…
Tapi belajar aja malas.

Ceritanya sayah pengen maju…
Tapi berusaha nentuin tujuan aja malas.

Ceritanya… sayah malas.


R.M.R

Monday, October 14, 2013

Seminar Grafologi : Process To Find Your Best Partner In Life


Tahun 2008, saat itu saya belum lulus dari Fakultas Hukum Parahyangan, masih menunggu gelombang waktu wisuda, namun demikian saat itu pertama kalinya saya diminta bantuan oleh seorang janda dan duda yang ingin menikah, namun salah satu dari mereka masih ada yang bermasalah perihal belum keluarnya surat cerai dari pernikahan sebelumnya. Ketika itu pun saya menjadi konselor hukum mereka. dengan prodeo, orang hukum bilang.

Setelah peristiwa itu, tidak sedikit suami atau istri yang menceritakan tantangan dalam rumah tangga mereka kepada saya, meminta saya memberikan solusi. Sedikit yang meminta solusi hukum, kebanyakan meminta solusi praktis. Pada titik ini tanda tanya yang ada dalam pikiran saya semakin membesar...KOK BISA mereka itu mempercayai saya???. Padahal secara usia, tidak sedikit dari mereka yang lebih senior dari saya. Secara status, mereka sudah menikah, dan saya belum. Secara pengalaman, seharusnya mereka yang lebih banyak dari saya. Namun sekali lagi...KOK BISA mereka itu mempercayai saya, dan kemudian meminta solusi???.

Pertanyaan yang belum saya temukan jawabannya saat itu. Pertanyaan yang masih saya simpan dalam kantung pertanyaan-pertanyaan saya, untuk dikaji. Saat itu saya lebih fokus membantu mencarikan solusi, semampu saya. Sampai pada suatu titik dikemudian hari, saya menyadari bahwa kepercayaan adalah salah satu yang memiliki nilai tinggi. Kepercayaan tidak diberikan begitu saja oleh manusia, dan begitu pun oleh sahabat-sahabat yang telah mempercayai saya dengan masing-masing alasan mereka, untuk menjadikan saya "tempat" diskusi, mencari solusi terbaik. Saya mestinya lebih mampu bersyukur.

"Kasus-kasus" pasangan, baik yang sudah menikah ataupun baru mau menikah, saya rekam cukup baik, dan kemudian saya simpulkan poin-poin apa yang menjadi sumber masalahnya. Dan poin-poin mereka inilah yang akan saya paparkan pada seminar "Grafologi : Process To Find Your Best Partner In Life". Dengan doa, bahwa dikemudian hari CALON PASANGAN YANG AKAN MENIKAH, MAMPU MENGUMPULKAN ILMU SECARA MAKSIMAL TERLEBIH DAHULU SEBELUM MENIKAH.

Hentikanlah konsep hidup, gimana ntar aja. 
Hentikanlah memberikan jawaban bahwa anda belum butuh ilmu berkeluarga, karena ilmu itu dipersiapkan sebelum datangnya ujian, tidak dadakan. 
Hentikanlah niat menambah tingginya angka perceraian setiap tahun, yang anda buktikan niat itu dengan tidak menyiapkan sebaik-baiknya ilmu sebelum menikah.
Hentikanlah niat mengakibatkan anak anda menjadi "korban" dalam keluarga, karena anda belum mau belajar memahami ilmu untuk berkeluarga.

http://2.bp.blogspot.com/_8vZI13vt1qg/TIohGCHxi7I/AAAAAAAAAIc/teUL9fydoJ0/s1600/personality1.jpg

Pemaparan "kasus-kasus" tersebut  akan saya selingi dengan ilmu grafologi yang saya pelajari. Ilmu grafologi adalah ilmu untuk mengenali karakter manusia, yang dapat dilihat dari coretan yang dibuat oleh yang bersangkutan. Saya pertama memperlajari grafologi pada tahun 2004, kepada Prof. Dr. Amril Ghaffar Sunny, Drs, MS, SE, MM, dan Prof. Dr. Catharina Dewi Wulansari, S.H, M.H. Selepas itu secara perlahan dan konsisten saya mendalami ilmu ini. Mempelajari karakter manusia, memiliki daya tarik sendiri bagi saya. 

Pada sekitar 2010, saya bertemu dengan Bapak Sapta Dwikardana, M.A, Ph.D, CBA, CMHA, CH., dan dari beliau saya menambah jam terbang pemahaman mengenai grafologi. Teori-teori mendasar grafologi telah saya pahami, kemudian sampai saat ini, saya mengembangkan pemahaman grafologi dengan cara saya sendiri.

Dengan ilmu grafologi, doa saya di kemudian hari, peserta seminar dapat  secara praktis mewaspadai karakter tersembunyi yang mungkin belum tampak pada calon pasangannya. Bukan mendidik peserta seminar menjadi perfectionist, namun dengan mengetahui kekurangan calon pasangan yang telah dipilih, kita dapat belajar lebih awal, untuk memakluminya.

R.M.R

Tuesday, October 1, 2013

Tiada Tuhan Selain Gelar?

http://i1.tribune.com.pk/wp-content/uploads/2013/05/554058-degree-1369426887-203-640x480.JPG

Beberapa waktu yang lalu, sayah mengirimkan lamaran dosen ke suatu universitas swasta. Pengiriman lamaran kerja ini modal nekad sebenarnya…nekadnya adalah sayah mengirimkan ke tempat dimana sayah tidak memenuhi persyaratan secara administratif yang dicantumkan pada info lowongan pekerjaan. 

Namun dibalik itu, sayah merasa cukup yakin bahwa kemampuan sayah memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan. Maka dari itulah sayah masih penasaran…apakah pihak universitas akan melakukan penilaian terhadap sayah sekedar dari sudut administratif (gelar)?... ataukah kemampuan?.

Bahkan dalam surat lamaran yang sayah kirimkan, di akhir surat sayah sebutkan, yang pada intinya bahwa memang gelar akademis sayah tidak sesuai sebagaimana yang dipersyaratkan. Namun sayah merasa punya kemampuan minimal yang dibutuhkan, dan sayah siap di tes kapan pun juga, untuk membuktikannya. Ya, semacam kalimat tantangan sayah tuliskan.

Beberapa hari setelahnya, sayah mendapatkan balasan surat atas lamaran sayah tersebut . Pada akhir suratnya terdapat kalimat, 

“…permohonan Saudara belum dapat kami kabulkan mengingat persyaratan adminstratif dan kualifikasi yang telah ditentukan tidak terpenuhi”. 

Ya, tantangan sayah tidak diterima.

Sayah jadi teringat tulisan Ayah Edy dengan judul  “Kisah di Negeri 1001 Gelar”.

http://www.degree.com/wp-content/gallery/homepage-gallery/gal_degrees.jpg


" Gelar oh gelar…tiada Tuhan selain gelar. 
Padahal orang-orang besar yang mengubah peradaban dunia justru tidak bergelar, tapi mengapa manusia begitu bangga dengan yang namanya gelar. 
Gelar ibarat sebuah nyawa dalam hidup, tanpa gelar sepertinya seseorang tak kan pernah bisa hidup, tapi mengapa justru mereka yang mengubah kehidupan dunia lebih banyak yang tidak bergelar
.
Gelar oh gelar…semuanya diukur dengan gelar. 
Bahkan dalam semua aspek kehidupan, prestasi, kemampuan, isi kepala tidak lagi menjadi penting. Jauh lebih penting memiliki gelar dan jumlah gelar yang dimilikinya. 

Gelar oh gelar…Tiada Tuhan selain Gelar. 
Bahkan untuk mencari pasangan hidup pun di negeri ini gelar menjadi salah satu persyaratannya. 
Ya…isi kepala dan nilai kemuliaan manusia hanya diukur sebatas gelar. 
Anda tidak boleh masuk ke sini jika tidak bergelar anu, atau Anda tidak boleh mengikuti ini asalkan minimal bergelar anu. 
Anda tidak boleh menjadi itu jika tidak memiliki gelar setinggi ini, begitulah isi sebuah aturan main di negeri 1001 gelar.
Sehebat apa pun prestasi Anda dan sebesar apa pun jasa Anda, Anda tak akan pernah naik peringkat jika Anda tidak mau menambah jumlah gelar yang Anda miliki saat ini. 
Begitulah pembatasan-pembatasan yang telah dibuat di negeri 1001 gelar.

Gelar…oh gelar… 
Ya, gelar-gelar yang telah membuat sombong orang yang memilikinya, yang telah merendahkan orang yang tidak memilikinya, dan yang telah membuat para orangtua begitu khawatir akan anak-anaknya. 
Hingga berduyun-duyunlah orang berebut gelar. 
Ya, karena segalanya diukur berdasarkan gelar. 
Maka menyingkirlah segera wahai pemikir-pemikir hebat dan orang-orang berprestasi di negeri itu jika Anda tak bergelar.
Bahkan yang tak kalah luar biasanya adalah untuk menjalankan perintah Tuhan Yang Maha Agung sekalipun, mereka masih belum rela rasanya jika tidak menambahkan gelar setelah melaksanakannya. 
Sungguh luar biasa. 

Tiada Tuhan selain Gelar. 
Itulah semboyan yang paling terkenal di negeri 1001 gelar. 
Untunglah dunia olahraga sejak dahulu tidak ikut-ikutan untuk mendewa-dewakan gelar.
Anda atau siapa pun tanpa terkecuali boleh ikut ambil bagian dan unjuk gigi di dunia ini. 
Tidak peduli apa pun gelar Anda, hanya prestasilah taruhannya. 
Siapa yang tidak unggul dia akan segera diminta mundur, tidak seperti di negeri 1001 gelar.
Dunia olahraga adalah dunia prestasi yang dari waktu ke waktu tidak pernah ada kemunduran. 
Catatannya selalu bergerak maju. 
Anda dinilai berdasarkan kemampuan bukan berdasarkna berapa tingginya gelar Anda atau berapa banyaknya gelar yang mengiringi nama Anda.
Begitulah kehidupan di negeri 1001 gelar…

Negeri ini semakin hari semakin terpuruk. 
Karena negara harus menanggung beban yang demikian berat terhadap orang-orang yang tidak berprestasi tapi memiliki gelar yang berbaris dari depan hingga di belakang namanya.
Bahkan yang jauh lebih memprihatinkan lagi ternyata bahwa sebagian besar masyarakat di negeri 1001 gelar sudah mulai lupa apa arti “Kemampuan Unggul”, apa arti “Prestasi” dan dari hasil temuan terakhir diketahui bahwa di dalam kamus besar bahasa, di negeri 1001 gelar, juga sudah tidak memuat lagi kata-kata seperti “Prestasi”, “Kemampuan”, “Kinerja”, “Keahlian”, dan sejenisnya, melainkan telah diganti dengan rangkaian daftar panjang gelar-gelar lama yang sebagian telah dikonversikan menjadi gelar-gelar baru yang semakin rumit dan membingungkan.

Begitulah Kisah di Negeri 1001 gelar, sebuah Negeri yang pada akhirnya selalu diliputi oleh 1001 masalah dan 1001 bencana yang terus dating silih berganti. 
Sungguh menakutkan akhir sebuah cerita dari sebuah negeri yang menganut paham Tiada Tuhan selain Gelar. 

Ah…seandainya saja kita mau belajar dari negeri 1001 gelar ini, mungkin kita bisa lebih cepat sadar dan bertobat.


Ya…sayah mau belajar.   
Ya…sayah mau memulai langkah.  
Kapan pun, dimana pun sayah berada,  sayah akan berkumpul dengan orang-orang yang mau juga belajar, mau memulai langkah. Langkah pembuktian, untuk mencari potensi unggul kami dari masing-masing individu, dan kelak kami akan membuktikan bahwa kemampuan unggul lebih utama dari sekedar gelar. 
Karena kemampuanlah yang membuat mampu untuk menopang kehidupan, bukan sekedar gelar.

R.M.R