Tuesday, September 10, 2013

Mengapa Kita Tidak Perlu Belajar Bela Diri?



Dari artikel-artikel yang sudah sayah tulis sebelumnya, apabila menelaah dengan seksama, anda akan dapat inti pemahaman, bahwa manusia dibentuk untuk lebih mementingkan hasil ketimbang memperjuangkan proses. Manusia dibentuk agar melupakan tujuan utama hidup, dan lebih mengutamakan “apa kata dunia”. Manusia dibentuk untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Maka janganlah heran, semakin anda mendukung sistem yang sedang berjalan, angka kriminalitas senantiasa bertumbuh.



Sayah tinggal Bandung, dan fakta yang sayah dapatkan dari sumber, kiranya harus sayah jadikan pelajaran. Sayah harus belajar mengambil hikmah dari kejadiannya. Salah satu hikmahnya adalah, kita perlu belajar bela diri. Bukan dengan tujuan menjadi sok aksi dan pamer kemampuan. Bukan berarti dengan belajar bela diri kita harus selalu bertarung dalam setiap peristiwa yang dianggap masalah. Bukan berarti dengan belajar bela diri kita harus kabur secepat kilat dengan kaki yang telah terlatih, saat menghadapi peristiwa yang dianggap masalah. Tetapi dengan belajar bela diri, kita BELAJAR MENGENDALIKAN DIRI, untuk mampu bersikap dan mengambil keputusan secara pas.

Silakan anda mengikuti satu bela diri yang anda yakini benar dan baik, tentunya setelah anda telaah sebelumnya. Ya, cukup satu, saran sayah. Karena persepsi sayah, apapun bela diri yang kita pilih, apabila kita tekuni dengan semestinya, akan menuju jalur yang sama, jalur menjadi seorang ahli bela diri. Saat lebih dari satu bela diri yang kita tekuni, bagi sayah, itu sangat mungkin “hanya” akan menjadi koleksi pengetahuan.

Dari info yang telah dibaca, lantas, mengapa kita tidak perlu belajar bela diri?.
Hal ini menjadi mungkin, apabila anda SELALU didampingi oleh bodyguard, ahli bela diri, polisi, ataupun petugas keamanan.

Pelajarilah bela diri, sedini mungkin.

http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2013/02/kejahatan-seksual130113c-300x166.jpg


R.M.R  

Friday, September 6, 2013

Usaha Instan Untuk Hasil Instan

http://2.bp.blogspot.com/-iiHJ9YUY5QQ/UDEIckxUjzI/AAAAAAAAA2E/D_rdaAFbRAI/s1600/instan.png


Berhasil. Bukan Dora the explorer yang berhasil.
Maksud sayah yang berhasil disini ialah pola pembentukkan mind set, sedikit usaha untuk memperoleh hasil yang luar biasa. Prinsip pengeluaran sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya, mungkin sudah sering kita dengar. Prinsip itu tampak begitu menggema, terngiang-ngiang, dalam berbagai tingkatan masyarakat. Tidak sedikit yang menjadi berpikir instan untuk ikhtiar minimal, guna mendapatkan hasil yang maksimal.
Dari sudut pandang sayah, ini hal yang tidak tepat. Ini adalah perubahan mind set 180 derajat, dari yang seharusnya. Dalam pengamatan sayah, mind set ini begitu tampak di lingkungan yang katanya penuh dengan orang-orang terpelajar.
Orang-orang yang mengaku terpelajar itu, berbuat curang saat ujian, atas aturan yang telah disepakati sebelumnya. Pembelaannya, kecurangan sudah menjadi hal yang wajar, untuk mendapat hasil maksimal.
Orang-orang yang mengaku terpelajar itu, protes saat tidak lulus ujian. Pembelaannya, mereka sudah rajin mengisi presensi kehadiran, mengerjakan tugas, dan semua ujian. Kuantitas mungkin anda dapatkan, tapi jangan lupakan kualitas yang juga menjadi penentu dari kelulusan.
Berkomitmenlah dengan apa yang sudah anda sepakati.
Minta maaflah saat anda khilaf akan sebuah kesepakatan.
Perjalanan ibadah kehidupan terdiri dari komitmen atas kesepakatan dalam rangkaian proses.
Perjuangan ibadah kehidupan, bukanlah hal yang instan.

R.M.R

Wednesday, September 4, 2013

Pit Stop

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/63/Flickr_-_The_U.S._Army_-_Army_Racing_pit_stop.jpg

Pit stop sayah artikan sebagai istilah dalam balapan mobil, sebagai tempat berhenti sejenak, untuk tempat mobil direparasi, agar dapat melanjutkan balapannya dalam sirkuit.
Dalam pengamatan sayah, “fasilitas” pit stop ini layak dimiliki juga oleh manusia. Dalam artian manusia butuh rehat sejenak dari rutinitasnya, menghimpun tenaga, untuk kemudian bangkit menjadi lebih baik.
Karena ada yang mengalami, saat memaksakan diri, tetapi tidak memantau kondisi, yang terjadi adalah turunnya kondisi, sehingga mengakibatkan produktifitas terhambat cukup lama.
Maka rehatlah saat badan anda membutuhkan.
Rehat disini bukan berarti mundur, atau melakukan hal yang tidak bermanfaat. Justru sebaliknya, ini titik yang harus dijadikan momentum bagi manusia, untuk bangkit menjadi lebih baik.
Cobalah kita berkomunikasi lebih baik dengan badan kita sendiri, untuk mengetahui, kapan kita harus mengabil pit stop.

R.M.R