Saturday, June 8, 2013

Saat anak kehilangan figur dalam keluarga, ia akan mencari keluar

http://1.bp.blogspot.com/-ieVWoC7Ssh8/TZLAkiHj5sI/AAAAAAAAAW8/3Vcvv5PLxoQ/s1600/parents_child_silhouette1.jpg

Dari tahun 2008, sayah mulai belajar ilmu berkeluarga, termasuk mendidik anak. Bukan karena sayah sudah menikah dan segera punya anak, ataupun bukan karena sayah sudah punya anak. Sekedar dilandasi pemikiran, bahwa yang namanya ilmu harus siap sebelum datangnya hari ujian. Jadi sayah memaksimalkan diri untuk belajar ilmunya. Untuk kelak lebih siap menghadapi cobaan dalam berkeluarga, cobaan dalam mendidik anak.

Sampai dengan sekarang, ilmu mendidik anak yang sayah cicil itu, sering sayah praktekkan apabila bertemu dengan anak kecil. Segala puji untuk Allah. Ilmu-ilmu itu berhasil mencapai tujuannya, bahkan melebihi tujuan awal. Sayah mendapatkan bonusnya. Bonusnya adalah...anak-anak itu berkata. "Saya ingin seperti om rommy" ; "Saya ingin seperti a rommy" ; dan kalimat sejenis yang keluar dari mulut anak-anak itu. Perasaan senang dan bangga awal sayah rasakan, dan berusaha sayah kendalikan, menjadi bersyukur. Rasa haru, kaget, bercampur aduk. Maha Suci Engkau Ya Allah, yang telah mensucikan hamba-Mu. Sayah merenung, dan berkata dalam hati. "Ya Allah...seandainya anak-anak itu tau aib-aib sayah yang Engkau tutupi, apa masih anak-anak itu akan berkata demikian?. Apabila mereka tau aib-aib sayah, apakah mereka akan tetap ingin menjadi seperti sayah?". Berkecamuk perasaan saat itu. Sampai akhirnya sayah keluar dengan kesimpulan...

Anak-anak itu butuh figur. Figur yang menurut mereka bisa teladani, figur yang dirasa cukup hangat dan komunikatif sehingga mampu mendengarkan dan memberi solusi pada mereka saat memang dibutuhkan. Saat figur itu tidak didapatkan dari orang tua, terutama dari ayah mereka, mereka mencari figur lain keluar. Dan pada titik itulah mereka bertemu dengan sayah, yang sedang pada kondisi sedang berusaha meningkatkan ilmu berkeluarga, dan mendidik anak. Sayah menyadari, kesempurnaan sayah sebagai manusia adalah mampu berbuat khilaf. Namun sayah akan berusaha menjadi pribadi yang senantiasa meningkatkan kualitas diri, agar mampu menjadi teladan yang lebih baik, terutama bagi anak-anak kecil yang ingin menjadi seperti sayah. Ya, sayah akan berusaha membuat mereka lebih baik dari sayah, dengan jalan mereka masing-masing, bukan jalan sayah.

R.M.R  

No comments:

Post a Comment