Wednesday, June 5, 2013

Dosen pembimbing konseling

http://www.sospresta.com/sites/default/files/styles/uc_product_full/public/default_images/No_photo_000.jpg


Selepas mengajar, seringkali ada saja yang mengajak ngobrol. Tentang banyak hal. Namun dari banyaknya yang ngajak ngobrol, satu tema yang paling banyak dibincangkan mahasiswa/i, masalah PACAR.


"Pa, kenapa ya pacar saya jadi begini?"..
"Pa, kenapa ya pacar saya jadi begitu?"..

Terima kasih atas kepercayaannya tuk ngobrol,untuk mencari solusi :-)

Sempat sekilas terbersit dalam pikiran sayah. Sayah ini dosen atau pembimbing konseling ya? :-D. Tampaknya bisa jadi keduanya :-)

Dari pertanyaan yang senada di atas, banyak mahasiswa/i yang...sebut saja galau, karena pacarnya. Dan tampaknya ini pertanyaan krusial, karena begitu banyak dipertanyakan. Maka dari itu tulisan ini dipaparkan.

Sayah tidak melarang pemakaian istilah "pacaran". Toh istilah hanyalah perwakilan kata, dari arti yang disepakati. Yang biasanya sayah pertanyakan adalah, "tujuan pacaran kamu apa?". Bulls eye!. Satu pertanyaan pertama, dan otak tampak dipancing berpikir keras mencari jawabannya. Sampai keluar satu jawaban umum, "pacar itu untuk temen ngobrol, diskusi, tukar pikiran". Kita lanjut ke pertanyaan selanjutnya, "apa untuk ngobrol, diskusi, tukar pikiran harus dengan seorang saja yang diberi gelar pacar?". Dan jawabannya adalah "tidak". Kembali lagi ke pertanyaan awal, "lalu apa tujuan pacaran kamu?". 

Pertanyaan ini tampak sederhana, diremehkan, namun sebenarnya ini penting. Sebutlah kita ambil syair sebuah lagu..."Mau dibawa kemana hubungan kita?...". Ya, kalau kamu tidak punya tujuan, tidak peduli berapa pun usia kamu yang pacaran, lalu mau dibawa kemana arah pacarannya?untuk apa pacaran?. 

http://klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2012/10/30/108858/540x270/polisi-lacak-perampok-michelle-via-cctv-atm.jpg


Ada analogi menarik tentang ini, analogi memesan taxi. Ya, coba bayangkan, saat kamu sedang berdiri di pinggir jalan raya sana, dan taxi melewat di depan kamu, dan kamu pun memberhentikannya, kemudian naik. Saat ditanya sopir taxinya, "maaf nona, mau kemana?". Nah saat kamu ga punya tujuan, apa yang bakal kamu jawab?. Apakah..."Ga tau pak, saya juga mau kemana,jalan dulu saja lah". Atau mungkin "gimana bapak sopir sajalah". Lah...gimana ini kok, jadi gimana pak sopir???.

Ya...saat kamu tidak tahu, apa tujuan kamu dalam berpacaran, maka yang sedang kamu lakukan adalah dengan sengaja membuang usia, membuang energi, membuang uang untuk membayar argo yang terus berjalan, menumpuk kekesalan sendiri atau mungkin berdua dengan sopir taxi, karena jenuh mobil jalan terus tidak berhenti-berhenti. 

Cukup pahamkah pentingnya tujuan dalam konteks berpacaran?
Moga jelas ya :-)

Mungkin untuk yang membaca akan timbul pertanyaan, "lalu seandainya sekarang penulis berpacaran, tujuannya untuk apa?". Tujuan berpacaran adalah proses fit and proper test, proses mencari kesesuaian mencari calon pasangan hidup. Dan di proses ini, ada diskusi-diskusi penting yang dilakukan.

R.M.R

No comments:

Post a Comment